KOMUNIKASI TERAPEUTIK
Komunikasi merupakan rangkaian proses pengalihan informasi dari satu orang kepada orang lain dengan maksud tertentu (Liliweri, 2007:4). Komunikasi merupakan interaksi antarpribadi yang menggunakan sistem simbol linguistik, seperti sistem simbol verbal (kata-kata), verbal dan nonverbal yang dapat disosialisasikan secara langsung/ tatap muka atau melalui media lain (tulisan, oral dan visual).
Pengertian Komunikasi Terapeutik
sumber: http://creasoft.wordpress.com/2008/04/15/komunikasi-terapeutik
Contoh Komunikasi Terapeutik:
-->
Komunikasi merupakan rangkaian proses pengalihan informasi dari satu orang kepada orang lain dengan maksud tertentu (Liliweri, 2007:4). Komunikasi merupakan interaksi antarpribadi yang menggunakan sistem simbol linguistik, seperti sistem simbol verbal (kata-kata), verbal dan nonverbal yang dapat disosialisasikan secara langsung/ tatap muka atau melalui media lain (tulisan, oral dan visual).
Komunikasi adalah termasuk bagian terpenting dari peran perawat.dan dalam dunia perawat komunikasi yang digunakan dalam penyembuhan pasien disebut KOMUNIKASI TERAPEUTIK.
Pengertian Komunikasi Terapeutik
Komunikasi
terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan
dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien (Indrawati, 2003 48).
Komunikasi
terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling
memberikan pengertian antar perawat dengan pasien. Persoalan mendasar
dan komunikasi in adalah adanya saling membutuhan antara perawat dan
pasien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di
antara perawat dan pasien, perawat membantu dan pasien menerima bantuan
(Indrawati, 2003 : 48).
Komunikasi
terapeutik bukan pekerjaan yang bisa dikesampingkan, namun harus
direncanakan, disengaja, dan merupakan tindakan profesional. Akan
tetapi, jangan sampai karena terlalu asyik bekerja, kemudian melupakan
pasien sebagai manusia dengan beragam latar belakang dan masalahnya
(Arwani, 2003 50).
Manfaat Komunikasi Terapeutik
Manfaat
komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan menganjurkan kerja
sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien.
Mengidentifikasi. mengungkap perasaan dan mengkaji masalah dan evaluasi
tindakan yang dilakukan oleh perawat (Indrawati, 2003 : 50).
Tujuan Komunikasi Terapeutik (Indrawati, 2003 48).
Membantu
pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran
serta dapat mengambil tindakan yang efektif untuk pasien, membantu
mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan diri sendiri.
Kualitas
asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien sangat dipengaruhi oleh
kualitas hubungan perawat-klien, Bila perawat tidak memperhatikan hal
ini, hubungan perawat-klien tersebut bukanlah hubungan yang memberikan
dampak terapeutik yang mempercepat kesembuhan klien, tetapi hubungan
sosial biasa.
Contoh Komunikasi Terapeutik:
-->
Komunikasi Terapeutik
1.
Tahap Pre-Interaksi
a.
Mengumpulkan data tentang klien : Ditinjau dari
catatan medis/rekam medis
·
Kondisi klien adalah post partum (anak pertama)
·
Diagnosa Keperawatan dalam rangka perawatan luka
operasi saecar
·
Tujuan khusus adalah klien dapat emmahami dan
mandiri dalam rangka melaksanakan perawatan luka
·
Tindakan keperawatannya adalah perawatan luka
post partum
·
DS : klien mengatakan lemas
Klien mengatakan lembab pada luka operasinya
·
DO: Klien tampak lemas
Perban tampak lembab
TTV: suhu: 375 oC
Nadi: 74x/menit
TD : 120/70 mmhg
b.
Mengeskplorasi perasaan, fantasi dan ketakutan
= Saya siap berinteraksi dengan klien (Ny.Fithriyah) dengan tindakan
perawatan luka post
Operasi
c.
Membuat rencana pertemuan dengan klien
= Saya telah membuat kontrak untuk melakukan perawatan luka hari ini
pukul 10 pagi
2.
Tahap Orientasi
(dialog)
Perawat :
“Assalamualaikum ibu, selamat pagi”
Klien :
“Walaikum salam, pagi juga suster”
Perawat :
“Saya ners Ratna, apakah benar ini dengan ibu fithriyah?”
Klien :
“iya suster”
Perawat :
“Ibu fithriyah, ibu lebih suka saya panggil apa ibu?”
Klien :
“ibu pipit saja supaya lebih akrab suster”
Perawat :
“baik ibu pipit, saya ratna, hari ini saya yg akan merawat ibu dari pukul 07.00
-14.00 siang nanti bu, jadi kalau ada
masalah atau keluhan ibu dapat berbicara
Berbicara kepada saya bu”
Klien :
“Oke baik suster Ratna”
Perawat :
“Baiklah, ibu bagaimana keadaannya hari ini setelah operasi sesar kemarin?”
Klien :
“Alhamdulillah suster saya sennag sekali dengan kelahiran anak peratama saya
Tapi saya masih merasa lemas dan sulit
bergerak”
Perawat :
“alhamdulillah saya turut senang atas kelahiran anak pertama ibu, karna ibu
karna ibu melahirkan anak pertama melalui
sesar jd wajar kalau ibu sulit
bergerak karna ada luka operasi yg masih
rentan, selain lemas apakah yg ibu
rasakan?”
klien :
“oh begitu ya suster, tidak suster hanya lemas dan sulit bergerak saja”
Perawat :
“baik bu, sesuai dengan perjanjian kita kemarin, saya akan mengganti perban
luka ibu, supaya tidak terjadi infeksi dan supaya ibu
bisa segara beraktivitas
kembali”
klien : “baik suster, berapa lama?”
Perawat : “hanya sekitar 15 menit ibu pipit”
Klien : “iya suster”
3.
Tahap kerja
(dialog)
Perawat :
“baiklah bu, sebelumnya ada yang ingin ibu tanyakan?
Klien :
“apakah perawatan luka ini penting sus? Dan berapa frekuensi penggantian
perban sus?
Perawat : “iya ibu, perawatan luka ini sangat penting karna
jika luka kotor akan
menimbulkan infeksi dan dapat menyebabkan kematian,perban itu harus
diganti minimal 1x sehari buu”.
Klien : “baik suster”
Perawat :”oke ibu pipit, pertama maaf ibu bajunya sedikit saya
singkapkan ya bu, nanti jika sudah dirumah atau saat ibu sudah
merasa tidak nyaman. Ibu atau dengan bantuan keluarga dapat melakukan secara
mandiri”.
Klien :” alat-alatnya apa saja suster?”
Perawat :” sarung tangan, pinset, gunting, plester, kasa
steril, cairan pembersih. Ibu dapat menggunakan aquabides sudah ada yang
menjual diapotik apotik buu,,
Klien :” lalu caranya bagaimana sus?
Perawat :” pertama-tama kita buka balutan yang lama namun
jangan memegang dengan tangan telanjang,kita harus memakai sarung
tangan, lalu kita bersihkan luka dengan aquabides yang dicelupkan ke kasa dan
dikeringkan dengan kasa kering.
Klien : “ apakah kasa tidak boleh dipakai
berulang-ulang sus?
Perawat :” benar sekali ibu, setiap kali kita membersihkannya
kita tukar dengan kasa yang baru dan jangan lupa ibu kita harus
membersihkan luka dari daerah yang bersih kedaerah yang kotor”.
Klien : “ lalu apa lagi sus ?
Perawat : lalu buu, kita tutup luka dengan kasa steril , dan
direkatkan dengan plester,lalu ditutup dengan pakaian ibu kembali dan semua
bekas balutan dibuang ketempat sampah medis’.
Klien : “saya rasa saya sudah bias melakukannya sus”.
4.
Tahap terminasi
(dialog)
Perawat :”
baik ibu pipit, perawatan lukanya sudah selesai dan ibu pun sudah mengerti bagaimana cra melakukan perawatan luka.
Sekarang bagaimana rasannya bu, apakah sudah lebih nyaman buu sekarang ?
Klien :
“ iya suster sudah lebih nyaman,
Perawat :”
baik ibu kalau begitu nanti jika sudah waktunya ibu mengganti perban, ibu bisa
dibantu dengan keluarga, atau biasa juga didampingi saya atau perawat lainnya.
Klien :
“ iyah suster, terimakasih”,
Perawat :
“ iyah ibu pipit, apakah ada yang ingin ibu tanyakan?
Klien :
“tidak sus,saya rasa cukup dan saya sudah paham sus,
Perawat :”
baik ibu sekarang ibu dapat beristirahat kembali”
Klien :”
iyah susuter, terimakasih yah sus,,
Perawat :’ sama sama ibu pipit, semoga
lekas sembuh yah buu,,
blog keren
BalasHapus